semoga berguna, terimakasih
Psikologi Sosial: Memahami Perilaku Agresif
Latar
Belakang
Perilaku agresif merupakan salah satu
tindakan yang merupakan anti-sosial. Perilaku agresif juga merupakan salah satu
perilaku yang perlu diperbaiki untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan
sekitar atau dengan dunia diluar lingkup kehidupan kita. Bahaya perilaku
agresif terhadap pelaku adalah orang lain akan menjauhi pelaku yang hanya akan
menyakiti orang lain. Hal itu dapat berdampak negatif terhadap penyesuaian diri
dengan lingkungan sekitar.
Definisi perilaku agresif
Menurut Baron (dikutip dalam Kulsum dan Jauhar, 2014) menyatakan bahwa,
“agresif adalah tingkah laku yang dijalankan oleh individu dengan tujuan
melukai atau mencelakakan individu lain (h. 241).”
Sedangkan menurut Buss (dikutip dalam Krahe, 2001) mengemukakan bahwa,
“sebuah respons yang mengantarkan stimuli ‘beracun’ kepada makhluk hidup lain
(h. 15)”.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
kecenderungan perilaku agresif adalah adanya keinginan untuk melakukan perilaku
negatif, kekerasan yang berguna untuk menyakiti orang lain atau merusak suatu
benda yang dilakukan secara fisik maupun verbal.
Penyebab Agresi pada Manusia
Sosial. Terhambatnya atau tercegahnya upaya
mencapai tujuan menjadi salah satu penyebab adanya tindakan agresi sehingga
seseorang merasa frustasi dengan mengambil tindakan-tindakan agresi dengan cara
menyerang orang lain.
Personal.
Pola tingkah laku berdasarkan kepribadian menjadi salah satu penyebab suatu
tindakan agresi.
Kebudayaan.
Lingkungan dapat berperan dalam tindakan agresi, sehingga nilai dan norma
yang mendasari sikap dan tingkah laku masyarakat dapat berpengaruh terhadap
agretivitas suatu individu atau kelompok.
Jenis-jenis Agresi
Menurut Myers yang dikutip dalam Kulsum dan Jauhar (2014, h.
252) mengatakan bahwa secara umum agresi memiliki dua jenis, yaitu: (a) agresi
rasa benci atau agresi emosi, dan (b)
agresi sebagai sarana untuk mencapai tujuan lain.
Tipe-tipe
agresi
Menurut Moyer yang dikutip dalam Kulsum
dan Jauhar (2014, h. 248) pengantar psikologi sosial terdiri dari beberapa tipe-tipe
agresi, yaitu :
Agresi
predatori. Dibangkitkan oleh kehadiran objek alamiah (mangsa).
Agresi
antar jantan. Agresi yang secara tipikal
dibangkitkan oleh kehadiran sesama jantan pada suatu spesies.
Agresi
ketakutan. Agresi yang dibangkitkan oleh tertutupya kesempatan untuk
menghindari diri dari ancaman.
Agresi
tersinggung. Agresi yang dibangkitkan oleh perasaan tersinggung atau
kemarahan.
Agresi
pertahanan. Agresi yang dilakukan oleh organisme dalam rangka
mempertahankan daerah kekuasaanya dari ancaman atau gangguan spesiesnya
sendiri.
Agresi
material. Agresi yang spesifik pada spesies atau organisme betina (induk)
yang dilakukan dalam upaya melindungi anak-anaknya dari berbagai ancaman. dan
Agresi
instrumental. Agresi yang dipelajari, diperkuat (reinforced) dan dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Bentuk-bentuk Agresi
Menurut Morgan
et al. yang dikutip dalam Kulsum dan Jauhar (2014, h. 249) bentuk-bentuk
agresi, yaitu:
Fisik,
aktif, langsung. Memiliki sikap menikam, memukul, atau menembak orang lain.
Fisik,
aktif, tidak langsung. Memiliki sikap membuat perangkat untuk orang lain,
menyewa seorang pembunuh untuk membunuh.
Fisik,
pasif, langsung. Secara fisik, mencegah orang lain memperoleh tujuan yang
diinginkan atau memunculkan tindakan yang diinginkan.
Fisik,
pasif, tidak langsung. Menolak melakukan tugas-tugas yang seharusnya.
Verbal,
aktif, langsung. Menghina orang lain.
Verbal,
aktif, tidak langsung. Menyebarkan gosip atau rumor yang jahat tentang
orang lain.
Verbal, pasif, langsung. Menolak
berbicara dengan orang lain, menolak menjawab pertanyaan. dan
Verbal,
pasif, tidak langsung. Tidak mau membuat komentar verbal.
Teori-teori Agresi
Menurut Hudaniah (2003, h. 196) terdapat
tiga teori tentang agresi yang dianggap cukup berpengaruh, yaitu: (a) teori
instink, (b) teori frustasi-agresi, dan (c) teori belajar sosial.
Sumber perilaku agresi
Terdapat sumber-sumber yang dapat
membangkitkan amarah dalam diri seorang yang berperilaku agresif yang jika
ketenangan dalam dirinya sudah terusik atau terganggu yaitu: (a) serangan, adalah
gangguan yang dilakukan oleh orang lain; (b) frustasi, adalah gangguan atau
kegagalan dalam mencapai tujuan; dan (c) peran atribusi, suatu kejadian akan
menimbulkan amarah dan perilaku agresif bila sang korban mengamati serangan
atau frustasi itu dimaksudkan sebagai tindakan yang menimbulkan bahaya (Sears
et al., 1994).
Cara Mengatasi Agresi
Menurut
Sarwono dan Meinarno (2009) terdapat beberapa cara mengatasi agresi, yaitu:
Pengamatan
tingkah laku. Kelemahan seseorang dilihat dari tingkat agretivitas melalui
teknologi atau media massa yang ada.
Hukuman. Agretivitas
yang dilakukan oleh individu hingga yang dilakukan oleh institusi atau bahkan
Negara dalam melakukan suatu tindakan agresi yang dapat mengakibatkan seseorang
menjalani suatu hukuman.
Katarsis.
Umumnya katarsis adalah kegiatan fisik yang menguras tenaga sehingga
seseorang perlu mereduksi dorongan agresinya.
Kognitif.
Kondisi seseorang yang bertindak agresi, harus memilih adanya sikap saling
memaafkan.
Dampak Agresi
Menurut Kulsum
dan Jauhar (2014, h. 250) menyatakan bahwa agresi yang dilakukan berturut-turut
dalam jangka lama, dapat mempunyai dampak pada perkembangan kepribadian dan
agresi dapat berlanjut dari satu generasi ke generasi lainnya.
Kesimpulan
Perilaku agresif
merupakan suatu perilaku negatif yang dilakukan oleh individu dengan bertujuan
untuk melukai atau mencelakakan orang lain dan biasanya timbul karena adanya
pengalaman atau rangsangan situasi tertentu. Sehingga secara umum, perilaku agresi adalah
tanggapan yang mampu memberikan dampak merugikan atau merusak terhadap
organisme lain.
Alasan saya memilh topik ini karena ingin
membantu teman-teman sekitar yang kurang mengerti mengenai perilaku agresif,
baik pengertian maupun dampak dan cara penanganan dari perilaku agresif tersebut.
Daftar
Pustaka
Kulsum, U.,
& Jauhan, M. (2014). Pengantar
psikologi sosial. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.
Krahe, B.
(2001). Perilaku agresif. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Sasrwono, S.
W., & Meinarno, E. A. (2009). Psikologi
sosial. Jakarta: Salemba Humanika.
Sears, D. O.,
Freedman, J. L., & Peplau, L. A. (1985). Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.
Hudaniah, T.
D. (2003). Psikologi sosial. Malang:
UMM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar